TANGO O TANGO

Noni pusing bukan kepalang ketika akan menghadiri Festival Tari di daerahnya. Memang festival ini bukanlah festival tari biasa, melainkan festival yang bertaraf internasional. Semua mata tertuju ke festival ini. Akan ada banyak penari-penari lincah dan gemulai menghiasai festival ini. Dekorasi untuk acara ini juga tidak main-main, sejumlah hiasan bertemakan dansa dibuat sedemikian rupa agar menarik perhatian pengunjung. Semua dibuat agar pengunjung betah berlama-lama menyaksikan festival tari itu. Kostum yang paling bagus juga disiapkan demi perhelatan yang datangnya hanya setahun sekali ini.

Kalau anda memperhatikan potongan rambut dari para penarinya, kalian pasti akan tersenyum lucu. Dari sekian banyak potongan rambut yang ada, potongan rambut ini ter;lihat berbeda, semuanya dibuat khusus dan tidak ada duanya. Potongan rambutnya ada yang menyerupai bebek, ada yang menjuntai bak pohon kelapa, lalu menjuntai ke lantai, ada juga yang bentuknya seperti nanas. Semuanya dibuat dengan seapik mungkin. Sedetail mungkin, mendekati bentuk maupun hewan yang mereka inginkan.

Dalam keramaian itu Dinda sedang murung, ia bingung bukan kepalang nanti iakan mengenakan pakaian apa. Padahal festival itu sebentar lagi akan dihelat. Tatapannya kosong, tanganya termangu. Sepertinya semua menjadi buntu tidak ada jalan keluar. Langit diangaksa, seakan mengerti kesedihan Dinda. Langitpun mendung ikut bersimpati. Dari arah belakang datanglah Ati teman Dinda. Ati langsung menepuk pundak Dinda, sambil menanyakan. “Kamu kenapa Dinda ?”, sergahnya. Diluar ruangan kelas terdengar suara lalu-lalang kendaraan bermotor. Sehingga ikut membuat gundah hati Dinda. “Aku bingung mau mengenakan apa dihari festival nanti, padahal festivalnya sebentar lagi”, jelasnya pada Ati. “Tenang aja…’kan ada ini…”, ucap Ati.

Sejenak wajah Dinda tampak sumringah. “Apa ini…”, tanya Dinda. “Ini namanya wafer Tango…kalo kamu makan ini, kamu nggaka akan bingung lagii…”, Ati mnerangkan. Dinda memakan wafer Tango yang diberikan oleh Ati, benar saja Dinda langsung mengambil sepeda dan menemui ibunya di kantor. Dinda akan meminta tolong ibunya untuk mengantarkan Dinda ke toko kain. Setibanya Dinda dikantor, Dinda menemui ibunya. Lalu mereka berdua pergi toko kain, disana Dinbda memilih kain yang akan digunakannya untuk mengikuti festival.

Semua bahan untuk membuat pakaian dansa sudah jadi, kini ia dibantu ibunya langsung membuat gaun itu. Dua hari lamanya Dinda bersusah payah membuat kostum untuk menari, kini jadilah kostum itu.  Disekujur gaunnya Dinda menaburkan periasan yang unik dan cantik. Akhirnya  festival yang dinantikanpun tiba, Dinda tampil memukau dihadapan banyak pasang mata. Dinda membawakan dansa tango, dansa yang menitikberatkan pada kelentukan kaki. Semua itu berkat wafer Tango. Tak disangka juga semua peserta mengiringi kemenangan Dinda, dengan berjalan beriringan dibelakang Dinda. Woow Dinda kini mempunyai penggemar.


Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>