Rexus Ditanganku

Sebagai seorang pelukis aku butuh kuas, itu merupakan barang yang mutlak aku gunakan. Baik untuk membuat sketsa, ataupun lukisan pemandangan alam. Barang yang satu itu, seperti sudah melekat ditanganku, aku tak dapat hidup tanpannya. Setiap saat, aku mengahiskan waktu bersamannya. Entah itu pagi hari, siang hari, maupun malam, tak jarang pula sampai larut. Aku rela, sungguh-sungguh rela, sebab bagiku. Melukis sudah menjadi kebutuhan yang tak bisa ditawar lagi, itu hukumnya sudah paten.

Akan lebih asyik lagi jika, aku melukis ditemani segelas limun dingin. “Aah…..sungguh nikmat”, pikirku. Belum lama ini aku melihat sebuah iklan di media massa yang bercerita tentang sebuah produk, layaknya kuas. Begitu halus, begitu lembut dan dapat menggambarkan sebuah objek dengan begitu indahnya. Aku lalu memutuskan untuk membelinnya, aku langsung melangkahkan kakiku, dan pergi ke toko elektronik terdekat. Disana aku melihat-lihat, dan aku menemukan dia disana sebuah alat yang bisa menceritakan apa yang aku inginkan. Alat yang bisa menjawab segala kebutuhan para pelukis modern. Mouse yang bernama Rexus, desainnya sungguh futuristik dan elegan. Aku masih bisa merasakan getaran-getaran yang hanya bisa diungkapkan oleh sebuah kuas.

Tanganku seperti menari dibuatnnya, dengan alunan garis yang mencekatku dengan halus, sehalus untaian sutra di angkasa.

Aku kini bisa melukis dengan leluasa, hanya saja tidak diatas kanvas. Melainkan didalam monitor komputer. Dan warna biru, seperti laser yang dikeluarkan dari mouse Rexus ini, seolah menjawab segala kebutuhanku; terutama dalam menciptakan gambar yang terkesan natural, tapi tetap ‘bernyawa’. Sebulan telah berlalu, tetapi daya tahan dari Rexus sungguh luar biasa, mouse ini seperti tak pernah lelah untuk memuaskan, bagi siapapun yang memakainnya. Ia seperti tahu apa yang harus dilakukan, ia meliuk dengan gemulainnya. Berjalan tanpa harus terhenti, ialah pelayan sejati.

Banyak pekerjaan untuk melukis, aku lalu menawarkan agar aku membuat beberapa lukisan digital dan klienku menyukainnya. Klienku ini termasuk klien yang rumit, ia selalu menjabarkan keinginannya dengan rinci. Kalau dibuat perumpamaan, ‘sampai tak ada lagi yang tersisa’, ia begitu setia padaku. Berlembar-lembar lukisan telah selesai kubuat bersamanya, aku sampai lupa makan dan minum. Tetapi aku tak pernah menyesalinnya, karena tanganku merasa terbiasa dengan Rexus. Kulihat jadwal di papan tulis, terpampang disana sebuah tulisan yang menjelaskan kalau minggu depan aku harus, bertemu dengan Pak Walikota, untuk menjelaskn tentang sebuah proyek lukisan modern. Aku begitu bersemangat dan antusias, aku ingin meluksi lukisan itu dengan segera. Kusambar Rexusku dan mulai menjelajahi dunia ide yang ada dikepalaku.


Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>