Mentos Mentos Mentos

Betapa gembiranya hatiku, karena aku akan membacakan pidato, Ulang Tahun SMP Mari Bergembira, bukan karena apa. Tapi lebih karena aku sudah turun temurun berada disekolah ini, keluargaku menghabiskan masa SMPnya disini. Ditempat yang penuh dengan pepohonan ini, benar-benar pengalaman yang tak terlupakan. Aku malahan ditunjukkan foto-foto dari kedua orangtuaku. Ayahku ketika masih belum memiliki kumis seperti sekarang, kalau sekarang ayahku mempunyai kumis laiknya pagar kabupaten, tebal dan lebar. Dulu……hahahahaha….jangankan kumis, badan saja tidak cukup berisi. Lalu ibuku….iya ibuku….rambutnya masih dikepang dua, persis seperti salah satu tokoh telenovela. Mereka berdua mempunyai sejarah cerita yang sangat lucu. Mereka berdua bererita seolah-olah itu baru saja terjadi, dan belum lama mereka mengalaminnya.

Aku mematut-matut didepan kaca, berusaha memantas-mantaskan diri, apakah diriku sudah cukup siap untuk membawakan pidato. Kuulang-dan kuulang lagi kata-kata yang ada dikertas itu,

sampai lidahku sempat trerpeleset. Namun, aku terus mencobannya, sampai aku menguasainnya. Aku tidak mempedulikan kalau kakakku mengejekku, ia sepertinnya iri dengan ketekunanku dalam belajar. Aku selalu menapakinnya semua satu demi satu, sampai aku bisa melakukkannya dengan menutup mata. Kadang tanganku sampai berkeringat dan kakiku bergetar, aku sampai lupa untuk menghabiskan makananku. Rambutku juga kusut karena harus membacakan pidato itu dengan baik dan benar. Aku juga tak lupa untuk mencari refereensi lain, baik itu dengan bertannya pada temanku, dan mencari video yang ada kaitannya di media sosial, di channel video. Memang terlihat sepel tetapi, aku berusaha dengan sekuat tenaga, karena aku tidak mau mengecewakan orang-orang yang telah mempercayaiku.

Dua harinnya lamannya akhirnya hari itu, sudah ada didepan mata. Aku mencoba untuk tenang, karena semua mata memeandang kepadaku, aku mengupayakan itu semua, berupaya untuk tenang. Tapi aku ingat bahwa dimana ada kemauan disitu ada jalan, aku berusaha mengingat masa-masa latihanku yang keras. Bagaimana aku berhadapan dengan crmin, seolah-olah itu adalah audiensku. Kuseka keringatku, waktu menunjukkan bahwa kurang 30 menit lagi, aku berlaga. Rasannya kalau boleh dijelaskan seperti akan menghadapi ujian dari guru yang paling galak, dan juga menyeramkan. Aku mencoba untuk lebih menenangkan pikiranku, dan aku memakan permen kecil yang membuat nafasku lebih segar. Permn itu bernama mentos. Tampilamnnya yang imut, seakan membuatku melupakan segala kesusahanku, dan rintangan yang akan aku hadapi. Aku memakannya, kurang 15menit lagi, aku berupaya sekuat tenaga, untuk membuang resahku. Dan benar saja, semua halanganku sepertinnya terangkat. Permen itu seperti menguasaiku dengan rasa mint yang segar, semua menjadi lega dan tenang. Aku sekarang sudah tidak khawatir lagi, malah sebaliknya kau justru seperti dilimpahi, ribuan daun mint yang sangat segar sekali. Dan saat yang ditunggu akhirnya tiba juga, sorak-sorai penonton seperti lautan yang bergemuruh didepanku. Aku mulai berbicara dan penonton mulai bertepuk tangan, segala kesalahan sudah kuminimalisir, sehingga pidatoku, hampir tidak ada kesalahanya. Permen mentos ini menyelamatkanku, dan tak lama kemudian setelah pidatoku selesai, para audiens bertepuk tangan dengan riuhnnya.


Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>